Monday, April 24, 2017

ISLAM DAN BARAT: OPOSISI BINER?

Hari ini umat Islam merayakan Isra' Mi'raj. Hari besar ini seringkali kita maknai sebagai sarana mengingatkan umat Muslim tentang sejarah turunnya perintah shalat lima waktu. Dalam perjalanannya naik ke surga, Rasulullah SAW bertemu dengan para Nabi. Allah juga memerintahkan umat Nabi Muhammad SAW untuk shalat 50 kali sehari, namun saat Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa AS, beliau menyuruh Rasulullah untuk kembali ke Allah dan memohon untuk diturunkan jumlah shalat dalam sehari. Rasulullah kembali dari Nabi Musa AS ke Allah SWT sampai 3 kali, sampai kemudian jumlah shalat wajib diturunkan menjadi 5 kali, yang akan dihitung pahalanya 10 kali lipat oleh  Allah SWT. 

Namun bukan hikmah di atas yang akan saya bahas dalam tulisan berikut. Saya akan mengulas bagaimana kisah Isra' Mi'raj menjadi salah satu bukti bagaimana budaya Timur dan Barat di jaman Abad Pertengahan berkelindan secara dinamis dan saling memengaruhi. Tulisan ini saya sarikan secara singkat dari tesis MA saya berjudul The Representation of Islam in Medieval Literature (2004). Versi singkat dalam bahasa Indonesianya pernah saya sajikan dalam Pidato Ilmiah Lustrum ke-8 Unesa pada akhir tahun 2004 (baca lengkapnya di sini).  

Apabila ditelusuri sejarah peradaban Islam, akan diketahui betapa besar pengaruh Islam terhadap dunia Barat, dan begitu juga sebaliknya. Tercatat tiga tempat yang menjadi jembatan hubungan ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, dan agama antara Timur dan Barat, yakni Syria (Suriah), Spanyol, dan Sicilia. Spanyol Andalusia dan Syria merupakan tempat berinteraksinya peradaban Barat dan Islam, sedangkan Sicilia sempat menjadi kota Muslim di jaman kekhalifahan Fatimah sekitar tahun 948, dengan sedikitnya 3000 mesjid berdiri di kota ini (Hitti, 1962: 71).


Peradaban Barat seringkali menjadi panutan dan tolok ukur dalam menilai berbagai aspek dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia sastra. Namun tak banyak yang menyadari bahwa sebenarnya peradaban Islam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sastra Barat. Salah satunya adalah pengaruh kisah Isra' Mi'raj terhadap The Divine Comedy karya Dante.  Dante (1256-1321) adalah seorang penyair Italia dari abad ke-13. Dalam karyanya yang menjadi tonggak sastra Barat kanon (sastra yang sudah mapan dan menjadi tolok ukur kualitas sebuah tulisan), yakni The Divine Comedy (terdiri dari Inferno, Purgatorio, dan Paradiso), Dante mengisahkan tentang perjalanan imajiner dirinya melewati neraka, alam barzakh (purgatory), dan surga. Dengan ditemani oleh Virgil, penyair jaman Romawi, sebagai pembimbingnya, Dante bertemu dengan berbagai tokoh terkenal di dunia pada masa-masa sebelumnya. Di Inferno (Canto XXVIII.28-36), di neraka lapis bawah, Dante bertemu dengan Muhammad yang digambarkan sedang meratapi penderitaan karena siksaan yang diterimanya.



Muhammad dan Ali ditempatkan bersama-sama dengan tokoh-tokoh lain yang menurut Dante memikul dosa sebagai pemecah belah masyarakat. Gambaran siksaan kepada Muhammad bisa dikatakan amat kejam dan mengerikan. Dengan tubuh yang terbelah menjadi dua, lalu utuh kembali, dan terbelah lagi, dan seterusnya,  Muhammad dianggap pantas menerima hukuman atas dosanya menjadi pemecah belah dunia menjadi dengan mendirikan agama baru. Kemungkinan besar Dante juga mengetahui sejarah Islam tentang pecahnya umat Islam menjadi Sunni dan Syiah, karena dia juga menempatkan Ali di lingkar yang sama. Dengan menghukum dua figur Islam yang paling berpengaruh di neraka lapis bawah, Dante telah menunjukkan kebenciannya terhadap Islam.

Namun sebenarnya Dante sedikit banyak menunjukkan simpatinya kepada Islam, khususnya dalam bidang filsafat dan kenegaraan. Di karya yang sama, Inferno, Dante menyebut tiga tokoh yang berpengaruh dari dunia Islam. Ketiga tokoh Muslim ini adalah Avicenna (Ibn Sina), filsuf dan ilmuwan dari Baghdad di abad ke-9 yang karya-karyanya menjadi acuan ilmu kedokteran di Timur dan Barat selama berabad-abad lamanya (Fakhry, 1999:275), Averroes (Ibn Rushd), filsuf Andalusia/Spanyol Muslim di abad ke-11 yang lebih dikenal di Barat sebagai komentator Aristoteles, dan Sultan Saladin dari Mesir yang berhasil merebut Jerusalem dari tangan penguasa Kristen. Ketiga tokoh ini ditempatkan di Limbo, tempat orang-orang baik dikumpulkan tetapi tidak ditempatkan di surga karena mereka tidak dibaptis. Dengan menempatkan ketiga tokoh ini di Limbo, berarti Dante membuka kesempatan bagi mereka untuk memperoleh keselamatan (salvation).

Bagaimana kita sebagai masyarakat yang literat menyikapi karya sastra kanon seperti ini? The Divine Comedy bisa saja dianggap sebagai karya kanon dalam artian bahwa karya ini digunakan di pendidikan Barat dalam pembelajaran Sastra. Meskipun begitu, karya yang sama bisa saja dianggap bukan kanon dalam hal sentimen agama yang disampaikan. Pandangan agama Dante cenderung menguatkan hegemoni budaya Barat, dan sah-sah saja dijadikan bahan kritik Kajian Budaya atau Poskolonial karena mengamini oposisi biner Islam/Barat.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa sepak terjang Dante juga menunjukkan sikap yang ambivalen--benci dan simpati--terhadap Islam. Dante memberi penghargaan tinggi kepada dua filsuf Muslim (Avicenna dan Averroes) yang juga adalah pakar ilmu Al-Qur’an. Dante juga menaruh hormat tinggi kepada Sultan Saladin, seorang negarawan yang menjadi simbol jihad melawan penguasa agama yang dianut Dante. Bukankah lebih masuk akal bila Dante memasukkan Saladin ke neraka? Bila kita telusuri sejarah perkembangan Islam pada masa itu, Saladin ternyata banyak disebut sebagai tauladan seorang ksatria dan negarawan sejati, yang memperlakukan musuhnya dengan cara-cara yang baik dan manusiawi. Ini sangat jauh berbeda dengan perlakuan para tentara Kristen yang secara membabi buta membunuh orang-orang tidak berdosa, terutama di Perang Salib ke-1 (Munro, 1931;338).

Banyak sumber yang menyatakan bahwa Avicenna dan Averroes berupaya untuk menghadirkan harmoni antara filsafat Aristoteles dengan hikmah dalam Qur'an. Misalnya saja, Averroes berpandangan bahwa ayat-ayat di dalam Qur'an, bila ditafsirkan dengan tepat dan menggunakan akal, maka dapat digandengkan dengan filsafat. Filsafat agama seperti ini besar pengaruhnya terhadap munculnya Christian Scholasticism (Chejne 1974). Averroes banyak memberikan pengaruh kepada perkembangan pemikiran di Barat pada abad ke-13. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sehingga filsafat Aristoteles lebih mudah dipahami di dunia Barat. Dante sendiri bahkan dituduh sebagai pengikut Averroes dan dikucilkan dari kota kelahirannya, dan karya-karyanya dibakar oleh penguasa (Cantor: 1996:138). Pandangan ini bisa menjadi penjelasan mengapa Dante menolak Islam sebagai sebuah keyakinan beragama (sebagaimana tercermin dalam gambarannya tentang Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Ali), namun mengagumi Islam sebagai sebuah filsafat.
  

Pengaruh Islam yang lebih mengejutkan lagi, terutama bagi dunia Barat adalah kritik terhadap keaslian The Divine Comedy. Karya besar yang menjadi bacaan “wajib” bagi mereka yang menekuni Sastra Barat di dunia Barat, ternyata banyak sekali kesamaannya dengan kisah perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Adalah Miguel Asin Palacios, seorang pastur dari Spanyol, yang telah menghabiskan sekitar dua puluh lima tahun untuk menelusuri sumber-sumber yang memberikan inspirasi bagi Dante. Palacios menyatakan bahwa Dante mengambil kisah Isra’ Mi’raj dan berbagai tulisan dari dunia Islam. Dalam bukunya yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Islam and The Divine Comedy (1919), Palacios memberikan begitu banyak detil kesamaan dalam membandingkan keduanya, sehingga hampir mustahil kesamaan-kesamaan itu hanyalah kebetulan saja.





Penelitian Palacios patut diakui kebenarannya. Apabila kita betul-betul menelusuri episode-episode dalam The Divine Comedy yang menggambarkan neraka, alam barzakh, dan surga. Kita bisa menemukan begitu banyak kemiripan dengan gambaran neraka dan siksaan-siksaan terhadap berbagai macam dosa di setiap lapis neraka, maka sebagaimana tertulis di Al-Qur’an dan Hadith. Ambil saja sedikit contoh: Baik kisah Isra’ Mi’raj (Sahih Bukhari, Kitab 23, no. 468) maupun The Inferno (Canto XII.46-8) menggambarkan siksaan yang sama kepada orang yang meribakan uang. Mereka ditenggelamkan ke dalam sungai darah, dan dilempari batu yang kemudian mereka telan. 

Kemiripan yang patut disebut juga adalah bentuk siksaan yang terus menerus, misalnya kondisi fisik yang pulih dan utuh kembali untuk kemudian disiksa lagi. Dante memberikan gambaran di hampir seluruh bagian di Inferno. Sementara itu, umat Muslim sudah akrab dengan gambaran seperti ini, sebagaimana yang tersebut di Al-Qur’an  (QS An-Nisa: 56: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

Mungkinkah seorang Dante membaca Al-Qur’an dan/atau hadist secara langsung sebagai sumber inspirasinya? Isu tentang keaslian The Divine Comedy ini cukup kontroversial. Untuk memberi jawaban yang singkat, penjelasan yang sementara ini dianggap paling memungkinkan adalah bahwa Dante terinspirasi oleh karya seorang Sufi dari Andalusia pada abad ke-13, Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Karyanya, Futuhat Al Makkiyah, adalah kisah perjalanan mistis Ibn ‘Arabi, yang ditulis dengan menggunakan kisah Isra’ Mir’aj sebagai dasar (Morris, 1987). Ada pula banyak bukti bahwa pada masa hidup Dante, kisah Isra’ Mi’raj dalam versi bahasa Latin cukup dikenal. Mentor Dante, Brunetto Latini, pernah bekerja untuk Raja Alfonso X di Toledo, Spanyol. Alfonso X memerintahkan penterjemahan banyak karya bahasa Arab ke bahasa Latin, dan salah satunya adalah kisah Isra’ Mi’raj. Kita bisa berspekulasi bahwa Dante juga mendapatkan sumber-sumber ini dari gurunya (Asin Palacios, 1926:248-9; Chejne, 1974: 405).

Melalui tulisan ini, saya berharap agar kita semua umat manusia untuk belajar menerima perbedaan tanpa harus kehilangan keyakinan beragama kita masing-masing. Kita semua sadar bahwa ketidaktahuan masyarakat awam non-Muslim tentang Islam adalah akar dari Islamophobia. Sama halnya umat Muslim yang awam tentang keyakinan lain bisa menjadi ladang subur tumbuhnya kebencian. Kita bertetangga dengan berbagai pemeluk agama, namun tahukah kita, atau pernahkah kita saling bertanya dengan tulus tentang makna peringatan hari raya agama lain? Kita diharapkan untuk menunjukkan toleransi terhadap agama lain, namun apalah artinya toleransi bila tidak disertai dengan keterbukaan terhadap adanya perbedaan?   Di jaman yang bersifat multikulturalis ini, perbedaan bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan demi sebuah keseragaman, karena pada dasarnya perbedaan membuat kita semakin kaya, tanpa harus kehilangan identitas agama dan budaya masing-masing.

Sudah banyak yang dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara Islam dan Barat, namun jalan yang harus ditempuh masihlah sangat panjang. Benturan peradaban masih campur aduk dengan konflik agama. Barangkali tak perlu diperdebatkan mana yang ayam, mana yang telur. Kita benar-benar membutuhkan upaya yang keras dan terus menerus untuk membuka mata dunia bahwa batas-batas dan dikotomi Timur/Barat, Superior/Subordinat, dan Modern/Tradisional sebenarnya hanyalah garis maya.

Satu-satunya cara untuk membangun kesepahaman adalah dengan mengupayakan keterbukaan terhadap satu sama lain dan kesungguhan untuk menghargai tradisi masing-masing. Bukankah Allah telah menciptakan dunia ini penuh dengan perbedaan agar manusia bisa mengenal satu sama lain. Allah berfirman:
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al-Hujuraat: 13).


Daftar Rujukan

Alighieri, D. The Inferno. Trans. Allen Mandelbaum. New York: Bantam, 1980.
Cantor, P.A. 1996. “The Uncanonical Dante: The Divine Comedy and Islamic Philosophy.”  
       Philosophy and Literature 20: 138-53.
Chejne, A.G. 1974. Muslim Spain: Its History and Culture. Minneapolis: The U of
       Minnesota P.
Fakhry, M. 1999. “Philosophy and Theology from the eighth century C.E to the 
       present.” The Oxford History  of Islam. Ed. John L. Esposito. New York: Oxford UP. 
       269-304.
Munro, D. C. 1931. “The Western Attitude toward Islam during the Period of the Crusades.” 
       Speculum 6 (1931):329-243.
Hitti, P. K. 1962. Islam and the West: a Historical Cultural Survey. Princeton: Nostrand.
Morris, J.. 1987. “The Spiritual Ascension: Ibn ‘Arabi and the Mi’raj Part I.” Journal of the 
       American Oriental Society 107: 629-52.

Palacios, M.A. 1926. Islam and the Divine Comedy. New York: E.P. Dutton.


Sunday, April 16, 2017

SAYA TIDAK BISA MEMBUAT SEMUA ORANG BAHAGIA

“Kamu tidak bisa menyenangkan semua orang.” Kalimat ini acapkali saya dengar dari mulut mas Prapto setiap kali saya curhat tentang hari-hari saya. Kadang saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri. Mengapa ketika saya merasa melakukan hal-hal yang menurut saya baik, orang lain bisa menganggapnya  sebagai tindakan punya pamrih. Kadangkala bahkan ditentang habis-habisan. Ada juga yang sebenarnya mengamini tapi nampak cuek, kemudian diam-diam mencari tahu lebih dalam  dari orang lain. Itu hanya karena kebetulan ada yang merasa kurang cocok secara personal dengan saya.

Ada banyak pertanyaan ‘mengapa’ di benak saya. Tapi melelahkan juga mencari jawabannya. Ketika sudah mentok seperti ini, maka saya mengingat kembali ucapan suami saya. “Masak semua orang suruh setuju dengan apa yang kamu lakukan.”

Saya sedang merenung tentang pemaknaan literasi dalam persepsi orang-orang yang saya kenal. Harus saya akui bahwa antusiasme saya terhadap literasi memang amat tinggi. Praktis dalam setiap pandangan mata saya, yang saya cari adalah bukti-bukti orang sedang terlibat dalam praktik literasi. Entah itu di rumah, di kampung, di kampus, di hotel, di tempat umum, dan sebagainya. Saya mengikuti beberapa grup di medsos yang berorientasikan kepada literasi. Di beberapa grup saya cukup aktif, sementara di beberapa lainnya saya hanya sebagai pengamat. Tapi beragamnya anggota masing-masing grup ini menunjukkan bahwa literasi memang amat luas maknanya sebagai praktik sosial.

Karena literasi tidak lagi hanya terbatas pada kegiatan membaca dan menulis, saya cenderung meyakini bahwa orang-orang yang tahu benar pentingnya literasi informasi akan sepakat bahwa literasi memang wajib dipahami oleh semua orang. Guru semua mata pelajaran, para orangtua, birokrat, dan siapa saja butuh mengetahui bagaimana menyampaikan, memperoleh, mengelola dan mengevaluasi informasi melalui berbagai jenis teks. Apakah melalui buku, koran, majalah, fiksi, nonfiksi, radio, televisi, dan media lain, semua informasi perlu diolah dengan kacamata kritis.

Dalam hitungan saya, semakin banyak mahasiswa S1, S2 dan S3 yang mengangkat literasi sebagai bahan kajiannya. Ada banyak jalan yang mereka lalui untuk mengenal konsep literasi itu. Ada yang lewat kelas-kelas yang saya ajar, tulisan saya di blog, presentasi saya di seminar dan workshop. Dan tentunya jauh lebih banyak yang mengenal literasi dari dosen lain atau buku-buku dan artikel yang mereka baca. Saya kan termasuk ‘pemain’ baru. Ada banyak pegiat yang sudah jauh lebih lama dan berpengalaman menggeluti literasi. Saya ‘mah’ tidak ada apa-apanya. Hanya saja timingnya memang tepat saat ini. Pendek kata, kata literasi memang semakin trendy saja. Saat ini, mudah sekali mencari artikel di media massa yang mengulas literasi di masyarakat. Perubahan ini tentunya membahagiakan para pegiat literasi.

Itulah sebabnya saya sempat terhenyak ketika seorang teman baik melontarkan ketidaksetujuannya secara terbuka terhadap sepak terjang saya. Oops. Sebenarnya saya tidak sedang menyepak atau bahkan menerjang siapapun. Saya pun mencoba mencari penjelasan kepada yang bersangkutan. Di manakah kiranya hal tentang literasi yang membuatnya jengah? Di mata saya yang orang sastra, rasanya muskil ada penikmat dan akademisi sastra yang justru menolak masuknya literasi dalam ranah sastra. Dalam waktu sekejap, kami seolah-olah sedang sama-sama pasang badan, membela posisi masing-masing.

Usut punya usut, cara pandang kami ternyata berbeda. Sobat saya menilai saya sedang ‘memaksakan’ literasi sebagai teori sastra baru. Dia tidak bisa menerimanya. Di matanya, disiplin sastra sudah mapan dan tidak seharusnya diutak-atik. Dan saya gantian yang bingung. Wong saya tidak pernah mengatakan bahwa literasi adalah teori sastra baru. Bagi saya, literasi dalam sastra sebuah isu yang menarik dan layak dikupas melalui tokoh-tokoh di dalam cerita atau film. Tak ubahnya dengan isu kecemasan, depresi, bias gender, rasisme, konflik strata sosial dan sebagainya. Bila isu bias gender dan emansipasi perempuan dapat dikupas dengan teori feminisme, maka representasi literasi dalam sastra dapat ditelaah dengan teori New Literacy Studies. It’s as simple as that. Saya memilih teori NLS karena persepsinya tentang literasi sebagai praktik sosial, dan bukan sekedar serangkaian ketrampilan bahasa. Ini teori yang sedang saya dalami dan kembangkan dalam berbagai aktivitas literasi saya.

Setelah disentil sobat saya ini, saya mencoba merenungkan kembali. Di mana kesalahan langkah saya. Saya termasuk orang yang khawatir menyakiti perasaan orang lain. Jangan-jangan ‘kampanye’ literasi saya terlalu berisik dan mengganggu sebagian orang. Jangan-jangan tanpa sadar saya sedang melakukan kekerasan simbolik kepada orang lain. Maka saya mulai mengumpulkan bukti-bukti.

Di dalam catatan saya, ada 5 mahasiswa S1 bimbingan saya yang menulis tentang representasi literasi dalam novel-novel pilihan mereka. Isu yang diangkat bervariasi, mulai tentang literasi dan kekuasaan, literasi sebagai ancaman, literasi dan pemberdayaan perempuan, sampai literasi sebagai terapi penyembuhan diri. Tiga di antara mereka sudah lulus tahun lalu. Di luar itu, saya juga memasukkan tema literasi dalam kelas-kelas yang saya ajar. Mulai tema media literacy dalam mata kuliah Popular Culture Studies, tema reading as family practice di kelas Poetry, dan literacy as self-development di kelas Prose.

Di kelas S2, literasi malah menjadi bahasan utama di mata kuliah baru, Literacy in Education. Dalam kurun waktu 1 semester, kami mengulas berbagai konsep yang terkait dengan literasi dalam berbagai ranah. Di akhir semester, saya memandang setidaknya 30an mahasiswa Pasca memahami berbagai konsep literasi di ranah sekolah, keluarga, dan komunitas. Semester ini, ada sekitar 6 mahasiswa S2 bimbingan saya yang mengangkat literasi di ranah pendidikan. Saya memang sempat menyampaikan bahwa saya hanya mau membimbing tesis yang berbasis sastra. Namun ternyata ada beberapa mahasiswa yang tertarik menulis tentang literasi di ranah pendidikan. Saya akhirnya bersedia membimbing tesis nonsastra, dengan syarat temanya literasi.

Mungkin saya memang terlalu berisik. Saya cukup sering menyampaikan peran literasi yang menyatukan disiplin sastra, linguistik, dan pembelajaran bahasa. Bahwa ketiga disiplin ini berbeda dan punya keunikan masing-masing memang benar. Tapi bahwa ada banyak irisan di antara ketiganya juga harus dicari kemungkinannya. Di depan teman-teman yang bidangnya Sastra, saya mencoba menampilkan tema literasi sebagai isu baru. Dengan teman-teman Linguistik, saya menunjukkan bahwa konsep New Literacy Studies justru tumbuh dan berkembang dari sana. Pendek kata, Linguistik adalah rumahnya. Sementara itu, dengan teman-teman disiplin Pendidikan (bahasa dan nonbahasa), saya cukup banyak mengulas pentingnya penumbuhan minat baca di kelas, berbagai strategi membaca, dan saat ini pentingnya strategi literasi dalam pembelajaran yang dapat dipraktikkan di semua mata pelajaran.

Sebenarnya saya juga tidak ingin asal bicara. Di berbagai forum saya memaparkan pengembangan iklim literasi sekolah dan memodelkan penerapan strategi literasi untuk tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran kepada para guru. Ini saya lakukan dalam kapasitas saya sebagai anggota Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud. Di kelas-kelas yang saya ampu, saya sudah cukup lama menggunakan strategi-strategi literasi. Di dinding kelas banyak poster mahasiswa yang mencerminkan pemanfaatan strategi literasi dalam pembelajaran. Dengan menerapkannya sendiri, saya bisa tahu plus minus dan dinamikanya.

Barangkali saya terlalu bersemangat, sampai tidak sadar bahwa ada pihak-pihak yang mulai terganggu kenyamanannya. Meski saya dapat berdalih bahwa saya ingin mengajak banyak pihak ikut melakukan perubahan, saya kurang awas bahwa tiap orang punya preferensi sendiri dalam melakukan perubahan. Bisa jadi saya pasang persneling agak tinggi karena membandingkan langkah saya dengan para pegiat literasi yang jauh melesat. Saya ingin ikut berlari dan menggandeng orang-orang di sekitar saya, sampai lupa bahwa tiap orang punya jalan berbeda. Saya memang tidak pernah memaksa orang lain mengikuti langkah saya, tapi cara saya bisa saja dimaknai berbeda.

Sekilas saya baca kembali paragraf-paragraf di atas. Mencoba mengonfirmasi dugaan saya, dan menguatkan niat saya untuk sedikit mengubah haluan. Mungkin saya perlu berdiam diri sejenak dan beralih mengamati langkah-langkah orang lain. Menjadi pengamat aktif, layaknya melakukan pengamatan partisipasi dalam metode etnografi.

Dalam renungan ini, saya merasakan hal yang berbeda. Saya menikmati antusiasme seorang teman yang aktif berbagi informasi tentang pencarian referensi yang dia lakukan di dunia maya, dan tentang praktik-praktik literasinya di kelas. Saya bisa menangkap binar matanya, dan tinggal mengiyakan pandangannya. “Sekarang ini mau tidak mau semua orang perlu tahu literasi,” begitu katanya. Saya tahu dia lakukan ini bukan karena saya yang menyuruh, tapi karena dia meyakini bahwa yang dia lakukan di kelas-kelasnya ternyata mendapatkan penguatan. Tidak cuma satu dua orang yang menunjukkan ketertarikannya terhadap literasi dengan cara begini. Ada beberapa yang meminta bantuan saya mengirimkan referensi untuk kajian literasi yang akan mereka garap, membaca draf mereka untuk dikomentari, atau sekedar ngobrol ringan tentang literasi. Dan mereka tahu literasi bukan dari saya. Mungkin mereka menghubungi saya karena mencari orang yang dapat mendukung ide-ide mereka.

Ternyata literasi memang bisa dimaknai berbeda. Sikap teman-teman saya menunjukkan bahwa literasi bisa memberdayakan, namun juga dapat menjadi ancaman. Jadi saya tidak perlu risau karenanya. Saya justru harus berterima kasih karena sudah diberikan bukti penerapan prinsip pendekatan New Literacy Studies. Saya jadi berpikir untuk melakukan kajian lebih mendalam tentang persepsi orang terhadap literasi.

Suami saya memang benar. Saya tidak bisa membahagiakan semua orang. Tapi setidaknya ada saja yang tergugah dan ikut bergabung bersama menyatukan langkah. Di sini saya merasa bahagia.

Kebraon, 15 April  2017





Tuesday, November 17, 2015

Tetap Ikut Ujian S-3 meski Wajah Menghitam Akibat Kemo

Tulisan ini adalah hasil wawancara Jawa Pos dengan saya. Sebenarnya saat itu kami sedang meresmikan pendirian Pusat Literasi Unesa. Kami menandainya dengan Bedah Buku. Tapi ternyata wartawan malah tertarik dengan kisah saya sebagai berjuang melawan kanker payudara di tengah-tengah perjalanan studi saya di Melbourne. Semoga tulisan ini memberikan semangat bagi para perempuan untuk pantang menyerah saat menghadapi cobaan dan musibah. Ikhtiar, pikiran positif dan ihkhlas adalah kuncinya.

==============================================


Tetap Ikut Ujian S-3 meski Wajah Menghitam Akibat Kemo

Kisah Dosen Unesa Pratiwi Retnaningdyah Berjuang Melawan Kanker Payudara Mengidap kanker payudara bukan akhir dari segalanya. Pratiwi Retnaningdyah buktinya. Kendati divonis kanker payudara, dia mampu menyelesaikan studi S-3 di Australia.

PUJI TYAS/ JAWA POS
shock.Suroboyo PANTANG MENYERAH: Pratiwi Retnaningdyah tetap tegar saat divonis mengidap kanker payudara.

TIWIK –panggilan Pratiwi Retnaningdyah– lemas lunglai saat divonis mengidap kanker payudara pada awal 2013. Saat itu, Tiwik adalah mahasiswi S-3 yang sedang memasuki tahun kedua di University of Melbourne, Australia. Vonis itu sangat mengguncang hati Tiwik. Dia
Semua bermula saat Tiwik merasa ada yang tidak beres pada payudara kirinya. Perempuan yang juga dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu merasakan ada benjolan pada payudaranya. Meski tidak merasakan sakit apa pun, Tiwik memutuskan untuk memeriksakan diri. Arek
kelahiran 3 Agustus 1967 tersebut lantas bertandang kepada dokter umum di klinik kampusnya. Dokter lantas merujuk ke laboratorium agar Tiwik melakukan serang- kaian pemeriksaan. Mulai mammogram, USG, hingga biopsi. Saat itulah, Tiwik didiagnosis kanker payudara. ’’Stadium awal tidak, lanjut juga tidak. Stadium tengah,” tuturnya.
Kesadaran untuk memeriksakan diri itu bukan tanpa alasan. Dia punya pengalaman tidak menyenangkan terkait kanker payudara. Tiwik mengaku, adik perempuannya yang ketiga meninggal karena kanker payudara. Tepatnya enam bulan sebelum Tiwik divonis kanker. Saat itu, Tiwik berada di Melbourne.
Saat didiagnosis, Tiwik mencoba tegar. Namun, setegar-tegarnya perempuan, air matanya jatuh juga. Ibunda Ganta dan Adzra itu lantas menuju perpustakaan kampus
Dia menangis sambil terus menulis. Air matanya bercucuran. ”Saya ngetik tentang perasaan saya sambil menangis,” katanya.
Menumpahkan unek-unek dalam sebuah tulisan membuat Tiwik merasa lega. Tulisan yang diketik dalam bahasa Inggris itu pun disimpan rapi. Setelah beberapa waktu dan Tiwik yakin bahwa tulisan tentang kanker yang dideritanya tidak membuat orang sedih atau membuat dirinya dikasihani, Tiwik mengunggahnya dalam blog. Dia berharap ada manfaat yang bisa dipetik bagi orang lain atas peristiwa yang dialaminya.
Sekecil apa pun kanker harus ditangani. Dokter mengatakan, Tiwik harus segera dioperasi. Payudara kiri Tiwik pun diangkat. Serangkaian proses kemoterapi dijalaninya. ”Saya tahu kemo akan betul-betul melemahkan. Saya butuh suami untuk datang menemani saya,” terangnya. Suami Tiwik, Prapto Rusianto, yang berprofesi sebagai guru, psikolog, konselor, sekaligus konsultan psikologi pun lantas cuti. Dia mengambil pekerjaan sampingan di Melbourne. Di sana, sang suami mendampingi Tiwik selama total satu tahun. Kedua anaknya juga diboyong ke Melbourne. Mereka lebih dahulu sampai di Melbourne sejak awal Tiwik kuliah.
Dia bersyukur, perawatan kesehatan di Melbourne sangat bagus. Sebagai seorang mahasiswa, Tiwik di- cover oleh asuransi kesehatan. Semua biaya ditanggung asuransi. Tiwik hanya mengeluarkan uang untuk menambal biaya pengobatan yang kira-kira hanya Rp 40 juta dari keseluruhan biaya yang mencapai ratusan juta rupiah. ”Itu pun saya bayar nyicil,” tuturnya.
Vonis kanker payudara tidak lantas menjadikan studi Tiwik keteteran. Kepada supervisornya, Tiwik menyampaikan bahwa studi lapangan sudah dilakukannya. ”Saya bilang ke supervisor bahwa tidak ada masalah dengan penelitian saya. Tapi, saya sedang sakit. Perlu cuti beberapa bulan karena harus operasi dan kemo,” katanya.
Beruntung, jawaban sang supervisor sangat melegakan Tiwik. Dia meminta Tiwik tidak khawatir dengan studi. Toh, selama ini tidak ada kendala. Hal yang harus diprioritaskan adalah kesehatan. ”Lima tahun lagi PhD hanya menjadi satu bagian kecil dari hidup. Yang penting sekarang sembuh,” kata Tiwik menirukan jawaban sang supervisor. Tiwik pun mendapat izin cuti selama tiga bulan.
Perkembangan studi Tiwik berjalan dengan baik. Saat kemo keenam atau terakhir, cuti sakit Tiwik juga berakhir. Pada November 2013, dia mendapat e-mail dari kampus untuk melakukan progress review tahun kedua pada Desember 2013. ”Karena saya habis kemo, butuh istirahat dua minggu. Saya tanya ke supervisor apa bisa progress review diundur dua minggu saja,” katanya.
Tiwik meminta reschedule agar kondisi kesehatannya lebih kuat dan bisa membuat ringkasan untuk progress review- nya. Namun, kepada sang supervisor, Tiwik memastikan bahwa bab-bab untuk review sudah siap. Tiwik mengaku selama masa sakit, dirinya meluangkan waktu untuk ngebut mengerjakan riset. ”Jadi, pas kemo selesai, garapan sudah ada,” jelasnya.
Tidak mudah menjalani masa pengobatan sambil tetap belajar. Sebelum kemo dimulai setelah operasi, ada jeda waktu satu bulan. Tiwik mengisinya dengan ngebut mengerjakan tesis. Saat masa kemo, Tiwik mengisi waktu dengan membaca. Itu pun kalau kondisi badan mendukung.
Tiwik memang bertekad untuk tidak menunda studi. Dari faktor usia, Tiwik sudah di atas 45 tahun. Jika terus-menerus meratap, tentu tidak akan mengubah apa-apa. Dia juga tidak punya asisten rumah tangga, sementara studi harus tetap jalan. ”Sedih oke, tapi tidak boleh terpuruk,” tuturnya. Ya, Tiwik memang menangis. Tapi, dia berusaha untuk tidak menangis di depan dua anaknya. Tiwik menyampaikan kepada buah hatinya bahwa dirinya sedang sakit. Secara fisik, kondisinya tidak akan optimal beraktivitas untuk sementara waktu. Karena itu, dia meminta kepada anaknya untuk membantu dan bekerja sama dengan ayah dalam menjaga urusan rumah.
Beruntung, dua anak Tiwik bisa memahami kondisinya. Bahkan, ketika Tiwik tidak bisa menemani ke sekolah dan membacakan buku cerita, sang anak menenangkan. Begitu pula ketika mereka tahu Tiwik gundul karena sakit. ”Ibu tidak usah risau. Nanti rambutnya bisa tumbuh lagi,” katanya mengenang support buah hatinya.
Selesai kemo terakhir, Tiwik ikut ujian tahun kedua dalam kondisi badan lebih kurus. Wajahnya pun menghitam akibat kemo. Saat datang ke kampus untuk tanda tangan beberapa berkas, supervisor menyangsikan kondisinya. ”Kamu yakin akan ujian sekarang? Kami bisa mundurkan sampai Februari,” kata Tiwik, menirukan sang supervisor. Tapi, Tiwik bersikukuh ikut ujian. Dia sudah punya bahan untuk diujikan dalam progress review tahun kedua. Bahkan, bertandang ke Hongkong untuk riset lapangan sempat dilakukannya sebelum divonis kanker. Selama ujian, Tiwik mengakui kondisi fisiknya masih tidak fit. Namun, dia berhasil melaluinya dengan cukup baik.
Sepanjang 2013, Tiwik menjalani pengobatan selama setahun penuh. Kemoterapi dilakukan empat bulan. Selain itu, Tiwik mendapat treatment lain, yakni targeted therapy herceptin. ”Itu berlangsung 18 kali selama tiga minggu sekali,” katanya. Tiwik mengungkapkan, keseluruhan treatment- nya berakhir pada Oktober 2014 ketika dirinya berada di tahun ketiga S-3. Bagi Tiwik, kemoterapi utamalah yang membuat kondisi fisiknya sangat lemah. Namun, terapi herceptin tidak terlalu mengganggu aktivitasnya.
Sambil studi dan mengasuh anak, dia tetap aktif dalam kegiatan komunitas masyarakat Indonesia di Melbourne. Tiwik juga tetap bisa mengikuti kegiatan akademik seperti diskusi ilmiah dan presentasi di berbagai seminar secara aktif. Bahkan, dia menjadi tutor di kampusnya selama satu semester. Saat ini, perkembangan kesehatan Tiwik semakin baik. Dia sudah kembali mengajar di Unesa. Umumnya, kata Tiwik, penderita kanker payudara punya waktu lima tahun untuk dikatakan menjadi survivor, sembuh dari kanker.
Meski payudara kiri sudah diangkat, Tiwik tidak risau. Dia tidak mengkhawatirkan image tidak sempurna sebagai perempuan. Tiwik memang ditawari rekonstruksi payudara selama masa pendampingan. Namun, dia memilih tidak menerima tawaran itu. ”Suami juga bilang tidak perlu. Saya tenang karena ada support keluarga dan temanteman,” katanya.
Semasa sakit, Tiwik tetap rajin menulis. Ya, menulis memang menjadi minat dan perhatian Tiwik. Bahkan, studi S-3 Tiwik adalah tentang praktik literasi para buruh migran Indonesia di Hongkong. Dia mengakui sangat berkaca pada para tenaga kerja wanita (TKW) yang menjadi informan dalam penelitiannya. ”Saya punya banyak teman TKW yang nulis dan menerbitkan buku, seperti novel, cerpen, dan kumpulan puisi. Itu sangat menginspirasi,” terangnya.
Terkait studi, saat ini Tiwik sudah merampungkannya. Tesisnya sudah diserahkan. Sekarang masih dalam masa underexamination atau masa pengujian. ”Mudahmudahan akhir tahun ini bisa memperoleh hasilnya,” ujarnya.
Tiwik berharap tulisan dan ujian hidup selama didiagnosis kanker payudara bisa memberikan semangat kepada masyarakat, terutama teman-teman perempuan yang mengalami hal serupa. Sebab, akan selalu ada harapan dan jalan selama mau berusaha. ”Harus positive thinking, umur di tangan Tuhan,” terangnya. (*/c6/oni)